Rabu, 14 Desember 2016

Sukses dengan Mengangkat Citra Profesi Security

Sukses dengan Mengangkat Citra Profesi Security



Sebagian masyarakat masih menganggap security sebagai profesi kelas dua. Padahal dengan memikul tanggung jawab yang begitu besar, profesi ini telah memberi andil positif bagi negara. Alex Fitaliano berusaha menaikkan image security layaknya profesi lain yang dianggap bergengsi.

“Saya paling tidak suka jika orang merendahkan profess security. Karena biar bagaimanapun security merupakan profesi yang berguna untuk masyarakat dan bangsa,” tegas Alex Fitaliano, Direktur Utama Security Phisik Dinamika (SPD).

Kegelisahan yang dirasakan Alex cukup beralasan. Pasalnya, masih ada sebagian suara sumbang dalam masyarakat yang menganggap rendah profesi ini. Alex yang juga biasa mendapat sebutan Panglima SPD ini tentu tidak ingin hal itu terjadi. Ketika seseorang bisa dengan lantang mengucapkan: “Saya seorang dokter”, “Anak saya pegawai bank” atau menantu saya anggota TNI”, misalnya, tapi anak buahnya berusaha menyembunyikan profesi security.

Meski Alex juga mengaku tidak bisa menampik jika pendapat seperti itu akhirnya muncul. Karena tidak sedikit kejadian yang menunjukkan profesi security hanya sebagai pelarian belaka. Ketika sudah mentok tak kunjung mendapatkan pekerjaan, security menjadi pilihan terakhir. “Banyak yang seperti itu. Saat gagal memasuki berbagai tes pekerjaan tertentu mereka akhirnya memilih profesi security,” tambah pria yang punya nama asli M. Ali Ahmad tersebut. Namun, hal itu tentunya bukan alasan untuk memberi tempat kelas dua pada profesi yang memegang fungsi pengamanan ini.

Apalagi jika melihat profesionalisme yang kini diperlihatkan oleh sebagian besar anggota security yang dengan sigap mampu mengamankan berbagai tempat-tempat strategis dengan dukungan pengetahuan dan keahlian yang tidak dimiliki sembarang orang. Contohnya, dalam mengamankan bandara, pesawat serta gedung-gedung vital, jelas bukan pekerjaan gampang. Tugas itu telah dibuktikan dengan baik oleh para petugas security.

Karena itulah untuk menepis anggapa miring terhadap profesi security, kelahiran 18 Februari 1966 ini mencoba membangun image positif dengan mendirikan lembaga pendidikan security formal dengan bentuk akademi. Dengan dasar pendidikan dan pelatihan security yang sudah ada, ia akan mengembangkan akademii tersebut. Suami Dila Meifedila ini memulainya dengan tingkatan D1 terlebih dahulu. Selanjutnya akademi akan dikembangkan hingga mencapai jenjang pendidikan S1.

Terkait dengan tugas dan tanggung jawab sebagai security, Alex tentu bisa berbicara secara gamblang. Karena ia benar-benar terjun langsung dan merasakan suka dukanya mengemban tugas sebagai security. Alex yang mulai mengenal tugas-tugas security pada tahun 1996 ini juga terlibat dalam pengamanan pada saat terjadi kerusuhan tahun 1998. ”Saya memimpin langsung penyelamatan sejumlah bus expatriat yang akan menuju ke bandara ketika terjadi kerusuhan. Dan itu tidak gampang, ketika amuk massa melanda ke hampir seluruh ibu kota dan sebagian jalanan rawan untuk dilewati,” kenang Alex yang sempat mengerahkan tenaganya selama 24 jam ini.

Tidak ada perasaaan minder, justru sebaliknya yang muncul adalah rasa bangga menyandang profesi tersebut. Alex menyadari dengan jumlah aparat TNI/Polri yang sangat terbatas maka dukungan tenaga security mutlak diperlukan. Jika tidak, maka akan sangat rawan ketika tempat-tempat vital dan orang-orang penting tidak ada yang melakukan pengawalan.

Alex Fitaliano, Direktur Utama Security Phisik DinamikaDampak lebih luas yang ditimbulkan adalah terciptanya kondisi aman dalam sebuah negara sehingga mendukung tumbuhnya geliat perekonomian. Sehingga tidak ada kekhawatiran baik dari investor lokal maupun asing untuk menggerakkan bisnisnya di tanah air. ”Coba apa akibatnya jika republik ini mendapat stigma sebagai negara yang sarat dengan kerusuhan. Kegiatan bisnis tidak mungkin bisa berjalan normal,” tutur alumni Universitas Muslim Indonesia ini. Padahal kestabilan keamanan menjadi salah satu syarat perbaikan perekonomian sebuah negara.

Alex lantas mencontohkan akibat kejadian kerusuhan yang berlangsung pada tahun 1998. Hampir seluruh sendi-sendi perekonomian terutama di Jakarta dan beberapa kota besar hancur. Dan terbukti butuh waktu yang sangat lama untuk bisa mengembalikannya pada kondisi semula. Rupanya kejadian tersebut menjadi titik balik bagi perjalanan karir Alex selanjutnya. Dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki, pria ramah ini menjajal peruntungannya dengan mendirikan sebuah perusahaan security.

Perusahaan yang secara resmi berdiri pada tahun 2000 ini awalnya hanya digawangi oleh sekitar 15 karyawan. Perlahan ada juga pihak yang tertarik untuk memanfaatkan jasanya, meski jumlahnya masih terbatas. ”Awalnya, kadang dapat klien kadang kosong. Meski sudah bekerja keras, kita tak lepas dari ujian-ujian berat Apalagi belum semua klien yang percaya pada kita,” kata Alex memberi gambaran bahwa tren bisnis security baru berkembang pada kurun waktu 10 tahun ini .

Namun keadaan demikian tidak menyurutkan langkahnya. Berkat kerja keras semua tim, SPD terus berkembang. Karyawannya kini mencapai 2000 orang yang tersebar di beberapa kota seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung dan di luar negeri. Tak hanya itu sarana dan prasarana yang dimilikinya pun kian lengkap. Diantaranya memiliki 6 mobil operasional kantor, 3 mobil pengawalan, 5 mobil pengamanan khusus VIP, 5 mobil patroli, 15 motor patwal, 7 mobil angkutan pasukan, 4 mobil Unimog, 3 mobil reo angkut pasukan, 2 mobil penyelamatan huru-hara, 1 unit mobil canon, 2 mobil Pusdiklat, 2 mobil ambilans emergency dan mobil K-9.

Jumlah klien pun terus bertambah. Saat ini tercatat 55 klien dengan sederet nama-nama besar. Sebut saja Lion Air, Grup Lippo, Grup Sampoerna, Grup Gunung Sewu hingga Taman Ria Senayan. Lantas, bagaimana sebenarnya prospek bisnis perusahaan security? ”Prospeknya sangat luar biasa. Karena semua industri memang membutuhkan jasa security,” terang Alex yang juga memiliki bisnis kebugaran dan rumah makan tersebut.

Tapi security masam apa yang diperlukan? Inilah persoalannya. Di Indonesia kini terdapat lebih dari 600 perusahaan security dengan skala dan kualitas yang berbeda. Dampaknya, persaingan antar perusahaan pun tak bisa terelakkan. ”Kadang sampai terjadi banting-bantingan harga untuk bisa mendapatkan klien. Dan itu sebenarnya tidak bagus,” keluhnya. Karena jasa security terkait dengan pengamanan, maka bukan hanya harta yang menjadi taruhannya tapi juga nyawa. Jadi persoalan keamanan tidak selayaknya dinilai dengan harga rendah.

Kendati potensi pasar yang bisa digarap masih terbilang luas, Alex tidak ingin terjebak hanya memikirkan sisi bisnisnya saja. Perusahaan security berbeda dengan perusahaan lain yang tidak hanya hitung-hitungan profit diatas kertas. Tapi lebih mengedepankan tanggung jawab dan kulaitas dari pelanggan. Lantara komitemen itulah banyak perusahaan yang memutuskan untuk menggunakan jasa RSD. Dalam sebulan Alex mengaku bisa membukukan keuntungan hingga Rp100 juta-an, yang sebagian diantaranya dikembalikan lagi untuk berinvestasi.

Berkat kerja kerasnya wajar jika SPD mendapatkan apresiasi.  Salah satunya dalam ajang Indonesian Best Entrepreneur of The Year tahun 2009 ini dimana Alex menjadi salah seorang yang menerima penghargaan bergengsi tersebut. Benar salah satu agendanya ia ingin agar security menjadi profesi yang bisa dijalankan secara profesional dan bukan lagi pekerjaan yang dipandang sebelah mata oleh masyarakat. ”Perjuangan SPD tidak akan berhenti hingga pemerintah menganggap security adalah bagian daripada masyarakat Indonesia yang setara dengan profesi lainnya,” tutur Alex.(sumber)



Baca Artikel Pebisnis Jasa Lainnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar