Senin, 21 November 2016

Gusde, Sukses dengan Menjaga Taksu

Gusde, Sukses dengan Menjaga Taksu



Dari ratusan hotel dan fasilitas pariwisata ternama di Pulau Bali, yang benar-benar dimiliki dan dijalankan oleh warga lokal dapat dihitung dengan jari. Salah satunya adalah Grup Santrian. Melalui tiga hotelnya, Griya Santrian, Puri Santrian, dan The Royal Santrian, grup itu bertahan dan bersaing.

Melihat dari dekat sepak terjang kontemporer Grup Santrian, orang akan tertuju pada sosok Ida Bagus Gede Sidharta Putra atau lebih dikenal dengan Gusde. Bersama seorang kakak dan dua adik laki-lakinya, ia tidak sekadar harus mempertahankan dan mengembangkan usaha yang dirintis ayahnya, Ida Bagus Tjethana Putra, pada awal tahun 1968. Pria santun yang duduk sebagai direktur akomodasi di Santrian itu juga mendapat tugas menjaga taksu atau roh sekaligus pedoman Santrian.

”Taksu itu berarti ke dalam dan ke luar. Tetap menjaga jati diri kebalian kami yang ramah, santun, tulus dalam melayani para tamu dengan mayoritas sumber daya lokal yang kami punya, tapi juga sekaligus percaya diri untuk ke luar, bersaing dengan usaha serupa yang juga jaringan internasional,” kata Gusde di Restoran Puri Santrian, awal Januari 2010.

Pantai Sanur adalah dasar bisnis Grup Santrian. Berada di salah satu pantai terindah di Bali, di pesisir timur, sehingga terkenal dengan pemandangan matahari terbit, dengan daerah tutupan hijau yang relatif rapat, Griya Santrian dan Puri Santrian mendapat hati di kalangan pelancong Eropa.

Benua yang terkenal sebagai pemasok pelancong yang suka mengunjungi satu tempat berkali-kali (return guests). Berkapasitas 300 kamar, kedua hotel resor itu mampu membukukan penjualan hingga 86 persen sepanjang tahun 2009. Kondisi itu termasuk tinggi dibandingkan dengan pencapaian hotel-hotel besar di Sanur.

Di kawasan itu pula Santrian menjalankan bisnis restoran, angkutan pariwisata, arung jeram, dan seawalker. Belakangan, atraksi berjalan kaki menikmati pemandangan bawah laut Sanur dengan peralatan berupa helm khusus menjadi salah satu maskot pariwisata di kawasan itu. Sebab, atraksi itu hanya ada satu-satunya di Bali dan diklaim di Indonesia.

”Bapak memang peletak dasar bisnis Grup Santrian. Kami anak-anaknya tinggal memodifikasi saja. Jika kakak dipersiapkan dengan spesifikasi di bidang perhotelan, saya di bidang manajerial dan pemasaran. Kami memang saling melengkapi sehingga perusahaan ini lebih mantap,” kata Gusde, lulusan sebuah universitas di Amerika Serikat.

Griya Santrian awalnya dibangun dalam bentuk cottage, penginapan sederhana. Waktu itu bersamaan dengan awal-awal pengoperasian Grand Bali Beach, hotel berbintang pertama di Sanur. Ayah Gusde, lulusan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, adalah mantan pegawai Grand Bali Beach.

Griya Santrian terus berkembang hingga bermetamorfosis menjadi hotel dengan 100 kamar. Tahun 1985 Puri Santrian dibangun. Dengan target kelas tamu lebih tinggi dibandingkan Griya Santrian, Puri dan Griya saling melengkapi.

Griya ditujukan untuk tempat berlibur keluarga, sementara Puri terasa pas untuk pasangan. Ciri khas itu tampak dari tagline masing-masing. Tagline Griya adalah charming family resort, sementara tagline Puri berbunyi a tropical paradise resort.

Selepas pulang dari AS, Gusde baru benar-benar terjun ke Grup Santrian. Posisi awalnya adalah asisten manajer di Puri Santrian hingga tiga tahun sebelum dipercaya menjadi general manager hotel itu. Saat itulah dia perlahan tapi pasti membenahi manajerial dan pemasaran hotel-hotelnya.

”Ilmu perhotelan, manajerial, juga pemasaran terus berkembang. Santrian dimulai dengan apa adanya, katakanlah merekrut karyawan tanpa seleksi ketat. Lebih dari 80 persen karyawan kami adalah warga Sanur dan sekitarnya. Itu kami pertahankan dengan cara menambah kecakapan mereka sesuai standar yang diterapkan. Pangsa pasar kami perluas dengan menjaga hubungan bersama penyedia jasa pariwisata maupun secara online,” kata Gusde.

Santrian termasuk dalam jaringan hotel yang sangat memerhatikan kualitas infrastruktur, termasuk lingkungan hidup. Masuk ke kompleks Griya maupun Puri Santrian, para tamu merasa kerasan dengan aneka tumbuhan, kebanyakan asli Bali, di taman-tamannya.

Kualitas Pantai Sanur yang pasirnya putih, tetapi sangat rawan abrasi seperti kawasan lain di Bali pun menjadi perhatian utama Gusde bersama pemangku kepentingan lain di kawasan itu. Lewat Yayasan Pembangunan Sanur, dengan Gusde duduk sebagai ketua, upaya menjaga lingkungan sekitar itu menjadi salah satu isu utama. Pergelaran festival pariwisata Sanur Village Festival setiap tahun juga diharapkan ikut menjaga kepariwisataan Sanur secara khusus dan Bali secara umum.

Belakangan, The Royal Santrian yang dibangun di Tanjung Benoa, 4 kilometer timur kawasan elite pariwisata Nusa Dua, Badung, menjadi semacam penegas perjalanan bisnis Gusde dan keluarganya lebih lebar lagi, termasuk secara geografis dari seputaran Sanur.

Vila di pinggir pantai yang baru dibuka mulai Agustus tahun lalu itu ditargetkan bagi pelancong kelas jetset dengan harga sewa kamar 750-1.000 dollar AS (Rp 6,5 juta-Rp 9,5 juta) per malam.

Gusde mengakui, perjuangan untuk bertahan, kemudian menyejajarkan kualitas dan disambung ”menjual” ciri khas pelayanan, tidak mudah. Di tengah jatuh bangun berproses, banyak tawaran, khususnya dari jaringan perhotelan internasional, yang ingin bekerja sama, bahkan membeli jaringan hotelnya.

Dia hanya ingat pesan sang ayah yang kini memilih jadi pendeta Hindu, yakni tetap bertahan dengan kaki sendiri demi pemberdayaan karyawan dan warga sekitar. Saat ini sedikitnya 1.000 karyawan bergantung pada sepak terjang Grup Santrian. Bersama Gusde dan tiga saudaranya, mereka terus menjaga taksu Santrian. (sumber)


Baca Artikel Pebisnis Jasa Lainnya

Kamis, 17 November 2016

Purdi Candra, Pelopor Bimbel di Indonesia

Purdi Candra, Pelopor Bimbel di Indonesia



Lewat Primagama, Purdi E. Chandra berhasil menjadi pengusaha sukses. Untuk meraih impiannya Purdi berhenti kuliah. Namun, akhirnya ia berhasil juga mendapatkan gelar dari lembaga pendidikan yang dibentuknya sendiri.

Sosok Purdi kini dikenal sebagai pengusaha yang sukses. Lembaga Bimbingan Belajar (Bimbel) Primagama yang didirikannya bahkan masuk ke Museum Rekor Indonesia (MURI) lantaran memiliki 181 cabang di 96 kota besar di Indonesia dengan 100 ribu siswa tiap tahun. Apa resep suksesnya sehingga Primagama kini menjadi sebuah holding company yang membawahi lebih dari 20 anak perusahaan?

Bukan suatu kebetulan jika pengusaha sukses identik dengan kenekatan mereka untuk berhenti sekolah atau kuliah. Seorang pengusaha sukses tidak ditentukan gelar sama sekali. Inilah yang dipercaya Purdi ketika baru membangun usahanya.

Kuliah di empat jurusan yang berbeda, Psikologi, Elektro, Sastra Inggris dan Farmasi di Universitas Gajah Mada (UGM) dan IKIP Yogya membuktikan kecemerlangan otak Purdi. Hanya saja ia merasa tidak mendapatkan apa-apa dengan pola kuliah yang menurutnya membosankan. Ia yakin, gagal meraih gelar sarjana bukan berarti gagal meraih cita-cita. Purdi muda yang penuh cita -cita dan idealisme ini pun nekad meninggalkan bangku kuliah dan mulai serius untuk berbisnis.

Sejak saat itu pria kelahiran Punggur, Lampung Tengah ini mulai menajamkan intuisi bisnisnya. Dia melihat tingginya antusiasme siswa SMA yang ingin masuk perguruan tinggi negeri yang punya nama, seperti UGM.

Bagaimana jika mereka dibantu untuk memecahkan soal-soal ujian masuk perguruan tinggi, pikirnya waktu itu. Purdi lalu mendapatkan ide untuk mendirikan bimbingan belajar yang diberi nama, Primagama.

Purdi mulai usaha sejak tahun 1982. Mungkin karena tidak selesai kuliah itu yang memotivasinya menjadi pengusaha. Lalu, dengan modal hasil melego motornya seharga Rp 300 ribu, ia mendirikan Bimbel Primagama dengan menyewa tempat kecil dan disekat menjadi dua. Muridnya hanya dua orang. Itu pun tetangga. Biaya les cuma 50 ribu untuk dua bulan. Kalau tidak ada les maka uangnya bisa dikembalikan.

Segala upaya dilakukan Purdi untuk membangun usahanya. Dua tahun setelah itu nama Primagama mulai dikenal. Muridnya bertambah banyak. Setelah sukses, banyak yang meniru nama Primagama. Purdi pun berinovasi untuk meningkatkan mutu lembaga pendidikannya ini.

Sebenarnya yang bikin Primagama maju itu setelah ada program jaminan diri. "Kalau ikut Primagama pasti diterima di Universitas Negeri. Kalau nggak uang kembali. Nah, supaya diterima murid-murid yang pintar kita angkat jadi pengajar. Karena yang membimbing pintar, ya 90 persen bisa lulus ujian masuk perguruan tinggi negeri," ujarnya.

Karena reputasinya Bimbel Primagama makin dikenal di Kota Pelajar, Yogya. Purdi tak cepat berpuas diri. Ia ingin mengembangkan cabang Primagama di kota lain. Mulailah cabang-cabang Primagama bermunculan di Bandung, Jakarta dan kota besar lain di Indonesia.

Purdi juga berinovasi mengembangkan sistem franchise atau waralaba. Di Pekanbaru, Sampit dan Tangerang telah dibuka cabang dengan sistem ini. Menurutnya sistem ini sangat tepat untuk dikembangkan sebab usaha bisa berkembang tanpa harus menyiapkan dana sendiri.

Sistem ini lebih menguntungkan untuk mengembangkan usaha kita daripada cara yang lainnya. Selain tak perlu merogoh kocek untuk investasi lagi ternyata keuntungan sebagai pemilik merek cukup besar. "Yang jelas orang lain membayar merek dan royalti tiap bulannya pada kita," jelas Purdi.

Purdi yakin merek lokal bisa berkembang dengan sistem ini dan bukan terbatas pada produk makanan saja. Jika merek lokal bisa masuk bisnis waralaba bukan tidak mungkin akan menjadi produk ini bisa jadi produk global seperti McDonald. (sumber)


Baca Artikel Pebisnis Jasa Lainnya

Rabu, 16 November 2016

Kisah Sukses Mochtar Riyadi

Kisah Sukses Mochtar Riyadi



Orang banyak mengenal Mochtar Riady sebagai seorang praktisi perbankan jempolan dan seorang konglomerat yang visioner. Pandangannya yang jauh ke depan dan sarat dengan filosofi menjadi panutan banyak para pengusaha dan para pelaku pasar.

Mochtar Riady adalah pendiri Grup Lippo, sebuah grup yang memiliki lebih dari 50 anak perusahaan. Jumlah seluruh karyawannya diperkirakan lebih dari 50 ribu orang. Aktivitas perusahaannya tidak hanya di Indonesia, tetapi juga hadir di kawasan Asia Pasifik, terutama di Hong Kong, Guang Zhou, Fujian, dan Shanghai. Sejarah Grup Lippo bermula ketika Mochtar Riady yang memiliki nama Tionghoa, Lie Mo Tie membeli sebagian saham di Bank Perniagaan Indonesia milik Haji Hasyim Ning pada 1981. Waktu dibeli, aset bank milik keluarga Hasyim telah merosot menjadi hanya sekitar Rp 16,3 miliar.

Mochtar sendiri pada waktu itu tengah menduduki posisi penting di Bank Central Asia, bank yang didirikan oleh keluarga Liem Sioe Liong. Ia bergabung dengan BCA pada 1975 dengan meninggalkan Bank Panin. Di BCA Mochtar mendapatkan saham sebesar 17,5 persen saham dan menjadi orang kepercayaan Liem Sioe Liong. Aset BCA ketika Mochtar bergabung hanya Rp 12,8 miliar. Mochtar baru keluar dari BCA pada akhir 1990 dan ketika itu aset bank tersebut sudah di atas Rp 5 triliun. Bergabung dengan Hasyim Ning membuat ia bersemangat.

Pada 1987, setelah ia bergabung, aset Bank Perniagaan Indonesia melonjak naik lebih dari 1.500 persen menjadi Rp 257,73 miliar. Hal ini membuat kagum kalangan perbankan nasional. Dua tahun kemudian, pada 1989, bank ini melakukan merger dengan Bank Umum Asia dan semenjak saat itu lahirlah Lippobank. Inilah cikal bakal Grup Lippo. Saat ini Grup Lippo memiliki berbagai bidang usaha.

Kesuksesannya, tentu saja tidak semudah dibayangkan oleh banyak orang. Mochtar Riady sudah bercita-cita menjadi seorang bankir di usia 10 tahun. Ketertarikan Riady yang dilahirkan di Malang pada tanggal 12 mei 1929 ini disebabkan karena setiap hari ketika berangkat sekolah, dia selalu melewati sebuah gedung megah yang merupakan kantor dari Nederlandsche Handels Bank (NHB) dan melihat para pegawai bank yang berpakaian parlente dan kelihatan sibuk.

Riady adalah anak seorang pedagang batik. Pada tahun 1947, Riady ditangkap oleh pemerintah Belanda dan di buang ke Nanking, Cina, di sana ia kemudian mengambil kuliah filosofi di University of Nanking. Namun karena ada perang, Riady pergi ke Hongkong hingga tahun 1950 dan kemudian kembali ke Indonesia. Riady masih sangat ingin menjadi seorang bankir, namun ayahnya tidak mendukung karena profesi bankir menurut ayahnya hanya untuk orang kaya, sedangkan kondisi keluarga mereka saat itu sangat miskin.

Pada tahun 1951 ia menikahi seorang wanita asal Jember, oleh mertuanya, Riady diserahi tanggung jawab untuk mengurus sebuah toko kecil. Dalam tempo tiga tahun Riady telah dapat memajukan toko mertuanya tersebut menjadi yang terbesar di Jember. Cita-citanya yang sangat ingin menjadi seorang banker membuatnya pergi ke Jakarta pada tahun 1954. Riady berprinsip bahwa jika sebuah pohon ditanam di dalam pot atau di dalam rumah tidak akan pernah tinggi, namun akan terjadi sebaliknya bila ditanam di sebuah lahan yang luas. Untuk mencari relasi, Riady bekerja di sebuah CV di Jalan Hayam Wuruk selama enam bulan, kemudian ia bekerja pada seorang importer, di waktu bersamaan ia pun bekerjasama dengan temannya untuk berbisnis kapal kecil.

Sampai saat itu, Riady masih sangat ingin menjadi seorang bankir. Setiap kali bertemu relasinya, ia selalu mengutarakan keinginannya itu. Suatu saat temannya mengabari dia jika ada sebuah bank yang lagi terkena masalah dan menawarinya untuk memperbaikinya, Riady tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut walau saat itu dia tidak punya pengalaman sekalipun. Riady berhasil meyakinkan Andi Gappa, pemilik Bank Kemakmuran yang bermasalah tersebut sehingga ia pun ditunjuk menjadi direktur di bank tersebut.

Di hari pertama sebagai direktur, Riady sangat pusing melihat balance sheet, dia tidak bisa bagaimana cara membaca dan memahaminya, namun Riady pura-pura mengerti di depan pegawai akunting. Sepanjang malam dia mencoba belajar dan memahami balance sheet tersebut, namun sia sia. Kemudian dia meminta tolong temannya yang bekerja di Standar Chartered Bank untuk mengajarinya, tetapi masih saja tidak mengerti. Akhirnya dia berterus terang terhadap para pegawainya dan Andi Gappa. Tentu saja mereka cukup terkejut mendengarnya. Permintaan Riady pun untuk mulai bekerja dari awal disetujuinya, mulai dari bagian kliring, cash, dan checking account. Selama sebulan penuh Riady belajar dan akhirnya ia pun mengerti tentang proses pembukuan, dan setelah membayar seorang guru privat ia akhirnya mengerti apakah itu akuntansi. Maka mulailah dia menjual kepercayaan, hanya dalam setahun Bank Kemakmuran mengalami banyak perbaikan dan tumbuh pesat.

Setelah cukup besar, pada tahun 1964, Riady pindah ke Bank Buana, kemudian di tahun 1971, dia pindah lagi ke Bank Panin yang merupakan gabungan dari Bank Kemakmuran, Bank Industri Jaya, dan Bank Industri Dagang Indonesia. (sumber)



Baca Artikel Pebisnis Lainnya di Ayopreneur